Halaman

    Social Items

Memiliki bisnis kuliner merupakan harapan sebagian besar orang, termasuk Martin Setiantoko. Adalah seorang Indonesia yang tetapkan untuk hijrah ke Amerika demi mewujudkan mimpinya di bisnis kuliner, yaitu mempunyai restoran sendiri. Namun, jangan dibayangkan Martin membawa banyak modal untuk mewujudkan cita-citanya itu. Di Amerika, ia tinggal di New York dengan uang saku yang hanya tinggal Rp. 1 juta.

Untuk bertahan hidup dan mewujudkan mimpinya, laki-laki 24 tahun itu harus rela bekerja sebagai tukang cucui piring di sebuah restoran. Pekerjaan itu dijalaninya selama 5 tahun.
Sate Truck Martin Setiantoko / © Satetruck
Setelah dirasa uang tabungannya mencukupi, lulusan sebuah sekolah masakan di Malang, Jatim ini pun membuka restoran sendiri di Virginia. Namun, selama 6 bulan pertama, restorannya tak mendapat laba yang berarti. Usaha pertamanya itu bangkrut. Dan alasannya yaitu terlalu diforsir untuk bekerja, Martin pun jatuh sakit.

Kebangkitan Usaha

Martin mulai mencicipi laba dikala restorannya sudah berjalan 3 tahun. Dari laba tersebut, ia mulai menyebarkan bisnis kulinernya. Bukannya membuka restoran baru, Martin justru membeli 2 buah truk dan memodifikasinya menjadi food truck. Food truck Martin banyak mangkal di Washington. Keputusannya membeli dan memodif food truck itu membuahkan hasil. Karena kebanyakan pembeli malah berasal dari food truck.

Berbeda dengan food truck yang biasa beredar, dimana kebanyakan kuliner yang dijual yaitu burger, hot dog, pizza, dan banyak sekali kuliner khas Amerika lainnya, Martin justru menunjukkan masakan khas Indonesia menyerupai sate, kari ayam, mie ayam, sampai rendang. Food truck Martin ini diberi nama Sate Truck.

Semua hidangan masakan Indonesia dalam Sate Truck Martin itu dibanderol dengan harga USD 9 atau Rp 117.000 (jika 1 USD = Rp 13.000). Sedangkan rendang lebih mahal 1 dollar, yakni $10 atau Rp 130.000

Usaha masakan Martin Setiantoko sekarang telah berkembang pesat. Saat ini ia mempunyai 1 restoran dan 2 food truck yang berada di lokasi berbeda. Baca : Usaha masakan yang cocok untuk pemula

Pria Indonesia Ini Sukses Jualan Sate Di Amerika Dengan Modal Rp. 1 Juta

Produk tanpa brand atau brand sanggup dibilang kurang lengkap. Keberadaan sebuah brand tak ubahnya identitas suatu produk. Dalam industri fashion (apparel), mereka biasanya diwakili dengan penggunaan hang tag dan label. Fungsi keduanya hampir sama. Bedanya hanya pada bentuk dan penempatannya. Label menempel pribadi pada produk, dan biasanya hanya berisi logo dan merk. Sedangkan hang tag digantung pada produk. Bisa memuat nama bisnis, logo, petunjuk perawatan, harga dan rincian penting lainnya.

Tak Butuh Modal Besar
Bisnis pembuatan label dan hang tag fashion ini tak perlu membutuhkan modal besar, ibarat halnya Rino Budi Saro yang mengatakan jasa desain sekaligus percetakan hang tag semenjak tahun 2011 di bawah payung perjuangan PT. Spektrum Indonesia. Saat memulai usaha, modal awal yang dikeluarkan Rino hanya sebesar Rp. 5 juta yang dipakai untuk membeli komputer second, printer, tinta dan bahan-bahan ibarat materi kertas, plastik mika, kulit, kain satin, kain nilon, polyester.

 Produk tanpa brand atau brand sanggup dibilang kurang lengkap Omset Rp. 30 juta Dari Produksi Label dan Hang Tag
contoh hang tag dan label. Dok : www.spektrumsentosa.com
Prospek Usaha
Menurut Rino, bisnis pembuatan label dan hang tag fashion ini akan tetap manis prospeknya, mengingat fungsi hang tag sebagai embel-embel fashion akan terus berkembang dan undangan / demandnya akan selalu ada seiring perkembangan fashion itu sendiri, terlebih kini ini banyak sekali perjuangan fashion dan butik yang mengusung brand sendiri.

Peran hang tag dan label sangat penting dalam memperkuat brand dagang, sekaligus menghindari pemalsuan produk. Usaha produksi label dan hang tag sangat manis prospeknya, terlebih pelaku perjuangan sejenis belum banyak yang sanggup menjaring customer dengan pesanan minim sebanyak 100 lusin, kebanyakan perusahaan besar tetapkan syarat minimum permbelian 500 lusin untuk sekali pesan.

Omset Usaha
Ada 3 jasa pembuatan label dan hang tag yang ditawarkan Rino, yaitu jenis hang tag, label rajut, dan label print. Hang tag dibanderol Rp. 650rb dengan minimal pemesanan 100 lusin, label rajut Rp. 490rb minimal pemesanan 100 lusin, dan label printing Rp. 500rb dengan minimal pemesanan yang sama.

Pemesanan di atas 700-800 lusin diberikan harga lebih murah. Peningkatan pemesanan label dan hang tag akan terjadi dikala awal tahun, alasannya ialah banyak produsen fashion mengeluarkan model fashion baru, dengan peningkatan mencapai 20% dibandingkan bulan biasanya.

Hingga kini PT. Spektrum Indonesia sudah memproduksi 15-20 brand label dan hang tag fashion dengan total cetak antara 3-5 ribu lusin per bulan. Sehingga omset dalam sebulan sanggup mencapai Rp. 30 juta, dengan laba higienis 50%.

Strategi Eksis

Selain sudah pernah melintasi beberapa pulau di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Papua, produk label dan hang tag Rino juga pernah menerima klien dari Malaysia dan Singapura. Media promosi online kerap dilakukan Rino melalui facebook, website, twitter, kaskus, dan memasang iklan gratis di banyak sekali situs pasang iklan gratis.

Membangun kolaborasi dan hubungan yang baik dengan para klien ialah salah satu trik supaya usahanya tetap eksis dan menjangkau pasar lebih luas. Selain itu, Rino juga terus berinovasi menciptakan produk berkualitas, dan selalu mengatakan pelayanan yang terbaik, ibarat tetapkan pemesanan minimum yang lebih sedikit dibandingkan kompetitor, mengatakan layanan edit desain gratis, serta memasang harga yang terjangkau dan mengatakan diskon.

Proses Produksi
Alur pemesanan biasanya dilakukan dengan mengirimkan desain label atau hang tag via email atau pribadi tiba ke workshop. Pengiriman desain via email biasanya sudah dalam bentuk PDF. Setelah desain sudah final, gres Rino mengirim hasil desain tersebut untuk dibentuk film desain.

Setelah dibuatkan film dilanjutkan ke percetakan untuk dicetak. Setelah selesai dicetak, tahap selanjutnya finishing dengan laminating atau vernis. Proses pengerjaan produk sekitar 2-3 ahad dari awal pengiriman desain.

Sistem pembayaran dengan DP 30% dan dilunasi sesudah produk siap dikirim. Jika desain label maupun hang tag sudah dalam bentuk film dan terdapat kesalahan, konsumen dikenakan biaya untuk mengganti desain dalam bentuk film tersebut sebesar Rp. 500rb.

Pengemasan label hang tag biasanya dibungkus dengan plastik mika dan sesudah rapi gres dikirim ke konsumen dengan jasa pengiriman ibarat pos, JNE dengan ongkos kirim ditanggung konsumen. (Baca juga : Omset Rp. 130rb Dari Usaha Souvenir Khas Jakarta)

Kendala
Saat mendesain label, berdasarkan Rino harus benar-benar teliti sehingga minim kesalahan dikala cetak. Selebihnya, Rino mengaku tak mengalami hambatan yang berarti dalam hal produksi. Kedepannya, Rino ingin usahanya sanggup lebih dikenal masyarakat dan sanggup terus eksis.

Omset Rp. 30 Juta Dari Produksi Label Dan Hang Tag

Sebelum muncul mie ayam sehat, perjuangan mie ayam biasa sudah menawarkan laba yang menjanjikan bagi para pelakunya. Selain alasannya resep rahasianya yang membuat masakan jadi enak, sehat dan lezat, diam-diam sukses yang lain dari mereka ialah cara membuat mie ayamnya. Mereka memakai mesin pembuat mie ayam sendiri untuk membuat mie yang berkualitas dan sehat. Kemudian muncullah mie ayam hijau sebagai awal mula mie ayam sehat tanpa materi pengawet ataupun pewarna. Seperti halnya Riri Nurjadi yang mempunyai gerai mie ayam sehat 3 warna berbahan sayuran dan tanpa pengawet. Berkat ketekunannya dalam berbisnis mie ayam sehat, Riri sanggup meraup omset hingga Rp. 45 juta/bulan dengan laba higienis sekitar 50%.

Awal Usaha
Saat memulai perjuangan tahun 2011 lalu, Riri menggelontorkan modal sekitar Rp. 25 juta untuk membeli alat produksi, materi baku dan renovasi daerah usaha. Saat awal memulai usaha, tanpa diduga respon pelanggan sungguh sangat luar biasa, tak ayal para pegawai Riri kualahan menanganinya. Hal tersebut benar-benar diluar dugaan Riri.

Keistimewaan
Strategi pemasaran yang diusung Riri yaitu dengan membuat 2 model ruangan, yaitu model indoor dan outdoor sehingga para pelanggan sanggup menentukan daerah sesuai selera. Riri ingin mie ayam sehatnya tak hanya menyasar kalangan menengah, tapi kesemua kalangan, baik anak-anak, remaja, dan orang tua.
 perjuangan mie ayam biasa sudah menawarkan laba yang menjanjikan bagi para pelakunya Bisnis Mie Ayam Sehat Berbahan Sayur, Untung Hingga 50%
mie ayam sehat warna hijau terbuat dari sayuran. Source : www.mieayamsehat.blogspot.com
Keunikan lain yaitu dengan menghadirkan mie ayam berbahan sayur tanpa memakai materi pengawet, tanpa formalin, tanpa penyedap rasa dan dengan quality control yang sangat diperhatikan. Brand pun menjadi keunikan tersendiri untuk menarik pasar, dengan merk "3 warna" Riri menghadirkan sajian sesuai dengan merk tersebut.

Satu porsi mie ayam ada tiga warna mie, yaitu warna merah yang terdiri dari bit, hijau terbuat dari sawi dan orange terbuat dari wortel. Tapi pembeli sanggup menentukan jenis mie yang diinginkan untuk satu porsinya, sanggup satu warna saja, dua warna atau tiga warna. Harga 1 porsinya Rp. 11rb, kalau memakai bakso Rp. 13rb. Selain kuliner sehat, mie ayam 3 warna juga menyediakan minuman sehat yaitu jus.

Tips Eksis
Meskipun tidak mempunyai keahlian membuat mie ayam, tidak menjadi penghalang Riri untuk menjalankan perjuangan ini. Ia pun sempat mengikuti kursus membuat mie ayam di Tangerang selama sehari. Sebelum menjajakan mie ayamnya ke khalayak ramai, Riri memakai tetangga dan keluarganya untuk menjadi tester mie ayamnya, sesudah responnya positif, ia pun tak ragu untuk memulai perjuangan ini.

Agar perjuangan kulinernya ini sanggup tetap survive, Riri terus melaksanakan kreasi sajian yang inovatif, menjaga kualitas produk dalam hal ini taste dari mie ayam yang dibuatnya, serta mempertahankan ciri khas. 

Pemilihan lokasi perjuangan juga sangat mempengaruhi penjualan. Ramai atau tidaknya daerah usaha, tergantung lokasinya. Tips menentukan lokasi perjuangan biar ramai ialah dengan menentukan lokasi di bersahabat perumahan, jalan pertigaan, perkantoran, gampang dijangkau, lokasi padat penduduk, dsb.

Setiap harinya rata-rata Riri sanggup menjual 80-100 mangkok mie ayam. Khusus hari sabtu, ahad dan awal bulan, penjualan sanggup mengalami peningkatan hingga 10% dibandingkan hari biasa. Diasumsikan kalau perhari rata-rata terjual 100 mangkok mie ayam dengan harga rata-rata Rp. 15rb, maka setiap bulan Riri sanggup meraup omset hingga Rp. 45juta dengan laba 50%.

Banyak Peniru
Banyak sekali pembeli yang tertarik untuk membuka mie ayam sehat 3 warna ini dengan sistem franchise. Melihat banyaknya peminat mie ayam sehat 3 warna, salah satu pelanggannya justru ada yang menduplikasi perjuangan Riri, mulai dari brand, foto produk, hingga konsep ruangan. Namun alasannya kualitas dan rasa yang jauh berbeda dengan aslinya, perjuangan itu pun hanya bertahan 3 bulan saja.

Inilah yang ditekankan oleh Riri, bahwa semua konsep atau merk boleh ditiru, namun duduk masalah rasa tidak sanggup ditiru. Ini sanggup dibuktikan dari beberapa temannya yang mengikuti kursus atau pelanggan yang berguru kursus di daerah Riri dulu berguru kursus membuat mie ayam, namun cita rasanya jauh berbeda.

Follower atau peniru perjuangan tidak sanggup dicegah, hal itu malah memicu kita untuk terus ulet berinovasi dan meningkatkan kualitas diri. Baca juga : Omset Rp. 130jt Dari Jualan Souvenir Khas Jakarta

Bisnis Mie Ayam Sehat Berbahan Sayur, Untung Sampai 50%

Peluang perjuangan souvenir bisa dibilang masih luas. Mendengar bisnis souvenir, kebanyakan orang hanya terbayang pada souvenir pernikahan, padahal bukan hanya itu saja, ada juga souvenir ulang tahun, souvenir flanel, dan yang akan saya bahas nanti, souvenir khas suatu daerah. Modal dan terbatasnya pengalaman tak menjadi penghalang bagi Ayu Rachmawaty untuk memulai perjuangan kreatif menciptakan produk souvenir khas Jakarta. Kini usahanya bisa meraih omset ratusan juga rupiah. Bagaimana cara Ayu memulai bisnis souvenirnya? Seperti apa pula produk kreasinya dan lika-liku perjuangan sampai mempunyai gerai di hotel, tempat wisata dan mall?
Awal Mula Usaha
Setelah menuntaskan studi di Singapura, Ayu Rachmawaty kembali ke Jakarta dengan cita-cita bisa mendapatkan pekerjaan layak dengan honor tinggi. Ayu pun melamar ke banyak sekali perusahaan, namun tak satupun perusahaan yang didatangi menawarkan penawaran honor di atas Rp. 5 juta sesuai keinginannya. Mulailah terbesit untuk membuka perjuangan sendiri dengan menciptakan banyak sekali macam souvenir khas Jakarta. Ayu terinspirasi dari tempat perbelanjaan dan tempat wisata di Singapura yang selalu menjual souvenir khas.
magnet fiber tempelan kulkas. Source : www.gimblett.blogspot.com
Ayu melihat belum ada pelaku bisnis yang berkecimpung dalam bisnis souvenir khas Jakarta, hal ini menambah semangat Ayu untuk merealisasikan ide usahanya. Awal tahun 2005 Ayu pun mulai merintis perjuangan dengan modal awal yang cukup minim hanya sebesar Rp. 10 juta. Modal dari saku pribadinya itu untuk dibelikan materi baku, peralatan menyerupai kompresor, amplas, bejana dan honor karyawan. 

Proses Sukses
Saat usahanya berjalan 1 tahun, Ayu mendaftarkan dirinya menjadi kawan binaan UMKM DKI Jakarta yang berlokasi di MT Haryono, Jakpus. Melihat respons dan potensi pasar usahanya yang bagus, Ayu kemudian mendapatkan suntikan dana tambahan dari pihak BUMN Telkom yang terbagi dalam dua tahap. Pertama ia menerima tambahan modal sebesar Rp. 40 juta dan kedua Rp. 60 juta.

Ayu mengaku bisa mendapatkan sumbangan modal perjuangan sehabis masuk kawan binaan UMKM DKI Jakarta. Selain itu ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi semoga bisa mendapatkan sumbangan modal. Syarat itu antara lain ; produk harus kreatif, berkualitas, perlengkapan fotocopy KTP, KK, dan neraca rugi keuntungan yang sudah dibukukan. Tempat perjuangan juga dicek pihak BUMN.

Tempat produksi Ayu menempati kios seluas 3x3 m di bilangan Klender, Jakarta Timur yang ia jadikan workshop dengan sewa perbulan Rp. 15 juta. Berkat omset yang terus meningkat, di tahun 2007 workshop tersebut dibelinya seharga Rp. 120 juta. Ia menentukan lokasi tersebut sebab tidak berada di tengah perkampungan, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Ayu mendapatkan keahlian dalam mendesain setiap produk secara otodidak. Ia juga hobi melukis sehingga sedikit banyak tahu mengenai seni dan desain. Jebolan S1 Business School Monash University Singapura ini juga sudah mematenkan nama Gimblett sebagai merk usahanya di Hak Kekayaan Intelektual dengan waktu pengurusan sekitar 6 bulan dengan biaya Rp. 2 juta. Biaya itu untuk membayar jasa biro dan pengurusan surat.

Prospek Usaha
Menurut Ayu, prospek perjuangan souvenir khas Jakarta akan cerah, bisa dilihat dari tahun ke tahun jumlah konsumen mengalami tren peningkatan sebesar 20%, apalagi makin banyaknya turis domestik maupun mancanegara. Ayu mengaku sebagai aktivis utama bisnis souvenir Jakarta, usahanya sangat gampang ditiru. Untuk mengatasi persaingan, Ayu terus menghadirkan penemuan dan lebih menggerakkan marketing produknya untuk menyasar pasar lebih luas. 

Produk
Saat memulai usaha, produk pertama yang dibuat Ayu yaitu T-shirt bergambar icon Jakarta dan miniatur monas. Setahun kemudian, Ayu mulai memproduksi banyak sekali souvenir khas Jakarta lain menyerupai magnet tempelan kulkas berbentuk bajaj orange, miniatur kakak none Jakarta, tempat menaruh pulpen berbentuk sepasang kepala ondel-ondel, pin huruf yang mempunyai tangan kaki, miniatur monas ukuran mini yang belahan bawahnya terdapat per sehingga bisa bergoyang dan yang paling terbaru yaitu tutup gelas berbentuk ondel-ondel dengan tinggi 18 cm. 

Harga yang ditawarkan dari yang termurah Rp. 12 ribu per pcs sampai Rp. 250rb per pcs. Produk yang paling laku yaitu miniatur kakak none dan tempat pulpen berbentuk sepasang kepala ondel-ondel, keduanya begitu laku sebab sangat mewakili ikon Jakarta khususnya budaya betawi.

Produk gres dikeluarkan sekali dalam setengah tahun, sehingga dalam setahun setidaknya ada 2 produk baru. Harga jual produk ditentukan dari ongkos karyawan, daya beli konsumen, materi baku dan tingkat kesulitan. Ayu mengaku usahanya sanggup terus eksis bertahan sampai kini berkat variasi dan penemuan produkyang terus ia lakukan. 

Selain itu, ia juga sangat memperhatikan segi pelayanan. Ayu mendengarkan setiap keluhan konsumen perihal produknya. Ia akan mengganti produk yang rusak dalam setiap pengiriman tanpa dikenai biaya tambahan. Ayu juga melihat kebutuhan pasar sehingga bisa menyesuaikan desain produk.

Dalam menciptakan desain, setidaknya Ayu harus memperhatikan setiap bentuk dan rupa ikon-ikon Jakarta menyerupai bentuk bajaj, Monas, huruf pelawak Jakarta Benyamin, huruf wajah gubernur Jokowi, serta penampilan kakak none yang setiap tahunnya menggunakan busana dan suplemen yang beda.

Bahan Baku
Dalam sebulan, setidaknya ayu membeli materi baku satu kali, namun jikalau order sedang tinggi, ia bisa melakukannya lebih dari sekali. Dalam setiap belanja materi baku, setidaknya Ayu merogoh kocek Rp. 5 juta.

Bahan baku utamanya yaitu resin yang dibeli di pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Pemilihan resin sebagai materi baku utama sebab sifat resin yang gampang dibentuk. Bahan lain menyerupai cat dibeli di toko cat kimia di kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur, dan untuk magnet dibeli di kawasan Kota, Jakarta Barat.

Proses Produksi
Proses produksi satu model souvenir Jakarta cukup gampang dan simpel, namun dalam mebuat desain, keterampilan menggambar dan tingkat kreativitas sangat dibutuhkan. Ayu dibantu oleh 2 orang karyawan di belahan produksi dan belanja materi baku yang digaji sebesar UMR DKI Jakarta setiap bulannya. Khusus belahan pengecatan, pribadi ditangani Ayu sendiri. Ayu merekrut karyawan dari kawasan tempat workshopnya, dengan keterampilan yang diharapkan antara lain sedikit banyak mempunyai pengetahuan di bidang seni, rajin. teliti dan jujur.

Pemasaran
Mengingat keterbatasan modal usaha, pertama kali Ayu memasarkan produknya secara online. 2 tahun kemudian, Ayu membuka workshop di Klender, Jakarta Timur. Setelah bergabung dengan UMKM Jakarta, ia pun menerima kesempatan untuk memasok produknya di cawan Monas. 

Saat usahanya mulai berkembang, Ayu memberanikan diri ikut serta di event PRJ (Pekan Raya Jakarta). Awalnya Ayu ditolak untuk ikutan PRJ, alasannya sebab produknya kurang kompetitif sebab gres skala UKM, namun Ayu tetap bersikeras untuk ikut, dan jadinya sampai PRJ kini ini pemasarannya berjalan baik.

Memasuki tahun 2007 Ayu lebih mempertajam pemasarannya dengan titip jual produk di banyak sekali toko dan galeri. Hingga ketika ini ia sudah menitip jual produknya di 16 gerai, antara lain ; Hotel Sultan, Hotel Mulia, Hotel Shangrila, Bandara Soekarno Hatta, Cilandak Town Square, Thamrin City, Pendopo Artha Gading, Pendopo Alam Sutra, Bandung dan di banyak sekali tempat wisata menyerupai Monas dan Ancol.

Ayu menggunakan sistem konsinyasi dengan fee pihak gerai sekitar 20%-50% dari setiap produk yang terjual. Syarat yang diberikan pihak gerai berdasarkan Ayu cukup dengan menyerahkan kelengkapan surat usaha, menyerupai izin usaha, surat paten HKI, pembukuan neraca keuntungan rugi dan produk pun bisa diterima.

Keuntungan Usaha
Dalam sebulan setidaknya Ayu bisa memproduksi 1000 pcs per satu model produk, dan ketika ini Ayu telah mempunyai lebih dari 5 model produk yang setiap bulannya laku terjual. Tak heran ia bisa meraih omset sampai Rp. 130 juta per bulan dengan keuntungan higienis 40%-50%.

Berkat keunikan dan kreativitas produknya, Ayu pernah sekali waktu mendapatkan order dari Australia, Singapura, Jepang, Norwegia, dan Amerika.

Kisah Sukses - Omset Rp. 130Juta Dari Souvenir Khas Jakarta

Sejak tahun 2006 Rusdi Raisa yang bersahabat disapa Rusdi turut meramaikan persaingan dengan menciptakan produk fashion handmade berbahan dasar kulit mulai dari dompet, tas, sepatu, gelang, gantungan dan lainnya. Dalam memulai usahanya, Rusdi hanya merogoh kocek sebesar Rp. 50rb sebagai modal awal yang ia gunakan untuk memesan sebuah dompet kulit dari pengrajin. Namun siapa sangka dari modal yang kecil tersebut, sekarang Rusdi bisa meraup omset fantastis hingga ratusan juta perbulan. Seperti apa dongeng suksesnya?

Pada tahun 2010, Rusdi resmi merilis brand perjuangan berlabel D'Russa Leather Goods yang sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Brand D'Russa merupakan kependekan namanya sendiri yaitu Rusdi Raisa. Selain itu, untuk melengkapi usahanya, Rusdi juga telah mengantongi perizinan mulai dari SIUP, Sertifikat Binaan Kementrian Industri dan perizinan lain.
 Rusdi Raisa yang bersahabat disapa Rusdi turut meramaikan persaingan dengan menciptakan produk fas Modal Rp. 50rb, Kini Omsetnya Rp. 250juta
salah satu tas produksi D'Russa

Motif Klasik

Dalam bisnis fashion, penemuan dan up to date tren ialah nilai mutlak yang dilakukan pelaku perjuangan semoga konsumen tidak jenuh dengan produk yang ada. Namun Rusdi lebih menonjolkan tema klasik dengan motif mudah elegan sebagai huruf produk D'Russa. Selain itu, ia juga menjamin kerapian jahitannya. Menurutnya, desain Classic Type tersebut mempunyai penggemar sendiri bahkan dicintai pasar mancanegara. Ciri khas produknya ialah tidak mempunyai bentuk produk yang ramai dengan pernak pernik aksesori. "Jika ramai dengan aksesori, maka kualitas kulit premium yang natural akan tertutup dan mengurangi nilai keindahannnya", terang Rusdi

D'Russa Leather Goods mempunyai banyak varian produk, antara lain ; tas, sepatu, softcase laptop, HP, charger, korek, roko, gantungan, dompet Italian Full Grain Leather Bi Fold Wallet yang terbuat dari materi kulit sapi Italia orisinil yang mempunyai saku multifungsi dan terdapat banyak slot kartu di dalamnya. Begitupun untuk tas, sekarang banyak diminati tas vintage motif klasik baik untuk jenis tas ransel, tas pinggang, mini bag, dan lain sebagainya.

Harga yang ditawarkan ibarat dompet mulai dari Rp. 350rb - Rp. 650rb per pcs, tas Rp. 650rb - Rp. 4 juta/pcs, sepatu Rp. 350rb - Rp. 1,2juta/pcs, dan aneka macam embel-embel lain dari Rp. 70rb hingga Rp. 500rb/pcs.

Bahan Baku

Rusdi memakai materi baku kulit pull up kualitas premium dari binatang sapi, domba, kambing dan kerbau. Bahan baku lain yang dipakai yakni kain satin, resleting, rantai, ring, benang, lem dan latex. Dalam memenuhi kebutuhan materi baku, Rusdi menggandeng beberapa supplier kulit yang ada di Tasikmalaya, Ciamis dan Garut.

Selain itu, Rusdi juga mengolah sendiri hingga menjadi kulit siap pakai. Proses tersebut dilakukan semoga Rusdi mendapat harga yang murah serta hasil yang maksimal. Supaya proses pengerjaan produk berjalan dengan baik, Rusdi dibantu oleh 14 karyawan yang mempunyai skill dalam dunia samak kulit dan penjahitan, selain itu juga ada 9 karyawan bab pemasaran.

Strategi Pemasaran

Setelah menemukan standar kualitas produk yang pas, Rusdi memilih segmentasi pasar yang dituju. Dalam hal ini, Rusdi membidik kalangan menengah atas alasannya minimnya persaingan di kelas tersebut.

Rusdi juga gencar berpromosi, baik dari ekspresi ke ekspresi dan media umum online. Namun, Rusdi mengungkapkan kalau promosi yang paling efektif yang kerap dilakukan yakni mengikuti ekspo yang bekerja sama dengan pemerintah, ibarat Inacraft, Smesco, serta event Jakarta Clothing (Jakcloth) yang rutin diadakan di Jakarta setiap tahun.

Melalui pameran, produknya sanggup dilihat eksklusif oleh para wisatawan mancanegara. Tak heran kalau konsumennya tak hanya dari pasar lokal, namun juga mancanegara ibarat Jepang, Malaysia, Singapura, Swiss hingga New Zealand.

Meski produk sudah melalui quality control yang sangat ketat, demi memperlihatkan kepuasan kepada pelanggan, Rusdi juga memperlihatkan garansi produk dengan masa aktif 1-5 tahun. Sehingga pelanggan tak perlu khawatir kalau produknya rusak dan cacat.

Modal Rp. 50Rb, Sekarang Omsetnya Rp. 250Juta

Subscribe Our Newsletter